Berita Ditreskrimum

Terlibat Kasus Penipuan, Dua Bos “Sipoa” Ditahan Polda Jatim

iTim Subdit II Harda Bangtah (Harta Benda dan Bangunan Tanah) Ditreskrimum Polda Jatim, yang dikomandani AKBP Roroh Wicaksono menetapkan dua tersangka kasus penggelapan dan penipuan atas pembelian apartemen maupun bangunan rumah Sipoa Group.

1832-hongkong

Klemens Sukarno Candra & Budi Santoso (Batik)

Saat itu, penyidik setelah melakukan penyidikan perkara dengan memeriksa 35 saksi dan dilaksanakannya gelar perkara, akhirnya meningkatkan status terlapor menjadi tersangka. Dalam kasus ini, dua orang ditetapkan sebagai tersangka, yaitu Budi Santoso menjabat sebagai Direktur Keuangan dan Klemens Sukarno Candra selaku Direktur Utama Sipoa Group. Kini, Rabu (23/5/2018) kedua tersangka ditahan

Kabid Humas Polda Jatim Kombes Frans Barung Mangera mengatakan, kasus penggelapan dan penipuan Sipoa Group ini mencuat, setelah pihak pengembang dianggap menipu dan ingkar janji dalam proses pembangunan maupun pengembalian uang pembelian apartemen dan rumah.

Atas perkara ini, 1.104 orang dirugikan setelah menyetorkan uang kepada pengembang, dengan total kerugian mencapai puluhan milyar rupiah. Meski dari jumlah yang dirugikan sebanyak itu, maka 619 korban sudah melunasi pembayaran, tapi gagal dapat apartemen.

Sementara itu, ribuan korban dari berbagai tempat yang tinggal di Surabaya serta Sidoarjo, melaporkan PT Sipoa Legacy Land ke Polda Jatim, Sabtu (10/3/2018) lalu.

Ratusan warga yang tergabung dalam Paguyuban Customer Sipoa (PCS), melaporkan karena menerima cek kosong dari pembelian properti dari PT Sipoa Legacy Land.

Apalagi para customer selama melakukan pembelian properti, pihak pengembang Sipoa Group telah memberikan lembaran cek untuk pengembalian unit properti yang hingga kini bangunan tak kunjung terealisasi.

“Ternyata lembar cek pengembalian uang dari Sipoa kosong. Dari sini ratusan orang tertipu jadi harus dilaporkan,” lanjutnya.

Korban yang melapor kali ini adalah kelompok kedua, tergabung dalam Paguyuban Customer Sipoa. Sebelumnya, pada Desember 2017, sekira seratus korban tergabung dalam Paguyuban Pembeli Proyek Sipoa atau P2S sudah melaporkan Sipoa Group ke Polda Jatim. Belum diketahui pasti tindaklanjut kasus itu.

Dia menjelaskan, pengembang yang dilaporkan itu berdiri dalam bendera PT Sipoa Legacy Land, membawahi sebelas perusahaan dengan 18 proyek properti. Properti yang ditawarkan kepada korban berupa hunian murah, seperti Royal Avatar dan Royal Mutiara Residence. Lokasinya di Tambak Oso, Waru, Kabupaten Sidoarjo.

Korban yang kebanyakan mendaftar ke Sipoa sejak 2015 untuk unit apartemen senilai Rp200 jutaan. Uang muka Rp15 juta dicicil 30 bulan, begitu pula dengan pembayaran pokoknya juga dicicil langsung ke pengembang, bukan melalui KPR. Sipoa berjanji untuk serah terima unit pada 2019.

Korban mulai resah setelah lahan yang dijanjikan sebagai lokasi hunian hingga sekarang masih berupa lahan kosong. Tidak ada tanda-tanda proyek dikerjakan.

Kejanggalan lainnya, rekening pembayaran cicilan tidak pada satu rekening, tetapi berubah-ubah kurang lebih 22 rekening. “Kami deteksi menggunakan 22 rekening,” ujarnya.

Setelah bergejolak, Sipoa berjanji mengembalikan uang para customer dan direalisasikan dengan menyerahkan lembaran cek. Ternyata, korban tidak bisa mencairkan cek tersebut alias bodong.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.